Rosan: IHSG Bangkit Senin, Kepercayaan Asing Menguat
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mengalami rebound pada perdagangan Senin (2/2), seiring respons positif investor asing
EmTrust Emitentrust.com - CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mengalami rebound pada perdagangan Senin (2/2), seiring respons positif investor asing terhadap langkah reformasi pasar modal Indonesia yang tengah dijalankan pemerintah.
Rosan mengungkapkan, dalam beberapa hari terakhir dirinya berkomunikasi intensif dengan investor global. Mayoritas investor, kata dia, menunjukkan pemahaman sekaligus kepercayaan terhadap kebijakan yang ditempuh pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Kalau itu (reformasi) dijalankan, mereka akan semakin confidence dengan pasar kita. Tapi dengan aksi yang kita lakukan beberapa hari ini mereka juga merespons sangat positif. Jadi insyaallah, saya yakin hari Senin dan berikutnya pasar modal kita akan rebound dan berjalan dengan baik,” ujar Rosan saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Minggu (1/2).
Menurut Rosan, salah satu masukan utama investor asing adalah permintaan agar ambang batas (threshold) keterbukaan data kepemilikan investor diturunkan dari ketentuan saat ini sebesar 5 persen.
Investor global menilai aturan tersebut belum sejalan dengan praktik di sejumlah negara lain yang menerapkan ambang batas lebih rendah, seperti India yang berada di kisaran 1 persen, serta negara lain di level 1–2 persen.
“Mereka menginginkan bahwa kalau sekarang yang perlu dibuka datanya itu di atas 5 persen, kalau bisa diturunkan. Karena di beberapa negara seperti India 1 persen, ada juga yang 2 persen,” jelasnya.
Permintaan tersebut sejalan dengan evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mendorong BEI membuka data kepemilikan investor secara lebih mendalam, termasuk untuk pemegang saham di bawah 5 persen.
Selama ini, keterbukaan informasi hanya diwajibkan bagi pemegang saham di atas ambang batas tersebut, sehingga dinilai belum cukup transparan untuk menghitung porsi saham publik (free float) secara akurat.
Rosan meyakini, penurunan threshold keterbukaan kepemilikan akan semakin meningkatkan kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia.
Selain itu, investor asing juga mengapresiasi kebijakan peningkatan minimum free float emiten dari 7,5 persen menjadi 15 persen, yang dinilai sebagai langkah konkret memperbaiki struktur pasar.
Menurut Rosan, kombinasi kebijakan struktural tersebut menjadi sinyal kuat keseriusan otoritas dalam memperbaiki tata kelola pasar modal, sekaligus diharapkan mampu memulihkan sentimen investor.
Adapun sejumlah kebijakan pemerintah untuk merespons gejolak di pasar modal antara lain:
Percepatan peningkatan transparansi kepemilikan investor di pasar modal
Percepatan demutualisasi BEI guna mengurangi benturan kepentingan sesuai UU P2SK
Peningkatan minimum free float emiten dari 7,5 persen menjadi 15 persen
Kenaikan batas investasi dana pensiun dan asuransi ke IHSG dari 8 persen menjadi 20 persen.