Saham Terbang 913% dari FCA, Grup Bakrie (VIVA): Bukan Kami!

Lonjakan harga saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) akhirnya memicu perhatian serius Bursa Efek Indonesia (BEI). Otoritas bursa secara resmi meminta klarifikasi manajemen VIVA

Saham Terbang 913% dari FCA, Grup Bakrie (VIVA): Bukan Kami!
Bacakan Artikel

EmTrust Emitentrust.com - Lonjakan harga saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) akhirnya memicu perhatian serius Bursa Efek Indonesia (BEI). Otoritas bursa secara resmi meminta klarifikasi manajemen VIVA terkait volatilitas transaksi dan kenaikan harga saham yang dinilai tak wajar dalam waktu singkat.

Pada perdagangan 15 Januari 2026, saham VIVA ditutup menguat 4% ke level Rp81 per saham. Namun kenaikan tersebut hanyalah puncak dari reli panjang yang mengundang tanda tanya pasar.

Dalam sepekan, saham VIVA telah melonjak 42% dari Rp57 pada 9 Januari 2026. Jika ditarik sebulan, penguatan mencapai 35% dari level Rp50 pada 18 Desember 2025. Lebih ekstrem lagi, dalam enam bulan terakhir, saham ini terbang 523% dari harga Rp13 pada perdagangan FCA 18 Juni 2025.

Yang paling mencengangkan, secara year to date (YTD), saham VIVA sudah melejit 912%, dari Rp8 pada 20 Januari 2025 ke level saat ini. Lonjakan nyaris sepuluh kali lipat itu membuat VIVA masuk radar pengawasan bursa.

Menanggapi permintaan BEI, Corporate Secretary VIVA, Neil R. Tobing, menegaskan bahwa perseroan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat memengaruhi harga saham maupun keputusan investasi pemodal.

“Sepanjang pengetahuan Perseroan, tidak terdapat informasi atau fakta material sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 31/POJK.04/2015,” tegas manajemen dalam keterbukaan informasi.

Penegasan serupa juga disampaikan terkait kewajiban pengungkapan informasi sesuai Peraturan BEI Nomor I-E. Manajemen memastikan tidak ada informasi material yang belum diungkapkan kepada publik.

Tak hanya itu, VIVA juga mengklaim tidak mengetahui adanya aktivitas pemegang saham tertentu yang wajib dilaporkan sesuai POJK Nomor 11/POJK.04/2017. Perseroan pun menegaskan tidak memiliki rencana aksi korporasi dalam waktu dekat, termasuk aksi yang berpotensi memengaruhi pencatatan saham di bursa.

Terkait pemegang saham utama dan pengendali, Neil menyebut tidak ada rencana pengambilan keputusan atau tindakan apa pun atas kepemilikan saham. Pemegang saham utama disebut tetap berfokus pada kepentingan jangka panjang perseroan dan para pemangku kepentingan.