Rupiah Melemah saat IHSG To The Moon, Kok Bisa?

EmTrust - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berhasil mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa (all time high/ATH) pada penutupan perdagangan Kamis (15/1/2026), dengan menguat 42,82 poin...

Rupiah Melemah saat IHSG To The Moon, Kok Bisa?
Bacakan Artikel

EmTrust EmTrust - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berhasil mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa (all time high/ATH) pada penutupan perdagangan Kamis (15/1/2026), dengan menguat 42,82 poin (0,47 persen) menuju level 9.075,41.

Tren penguatan indeks kali ini ditopang oleh lima sektor utama, yaitu sektor keuangan, teknologi, barang konsumen non-primer, barang konsumen primer, dan infrastruktur.

Namun demikian, kondisi berkebalikan justru terjadi di pasar uang domestik, di mana nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada hari yang sama justru tersungkur, dengan melemah hingga 0,15 persen menuju level Rp16.880 per dolar AS.

Jika IHSG sukses mencetak ATH baru, posisi rupiah kali ini justru tercatat sebagai level nilai tukar paling lemah sepanjang masa (all time low/ATL), mengalahkan posisi ATL rupiah sebelumnya, yang masih berada di level Rp16.865 per dolar AS, yang terbentuk pada 24 April 2025 lalu.

Lalu, mengapa situasi kontradiktif ini dapat terjadi secara bersamaan? Guna menjawab pertanyaan tersebut, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, turut angkat bicara.

Menurut Azharys, depresiasi rupiah saat ini merupakan refleksi dari penguatan signifikan indeks dolar AS. Pergerakan mata uang Paman Sam yang solid tersebut sejalan dengan tren pelemahan mata uang regional, sehingga memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Tekanan depresiasi yang dialami rupiah saat ini merupakan refleksi dari penguatan signifikan indeks dollar AS yang bergerak selaras dengan tren pelemahan mata uang regional," ujar Azharys, dalam keterangan resminya, Jumat 16/1/2026).

Kondisi tersebut, dalam pandangan Azharys, dipicu oleh sejumlah faktor global, mulai dari eskalasi tensi geopolitik, meningkatnya kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, hingga ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral AS Federal Reserve (The Fed), ke depannya.

Kondisi ini dipicu oleh eskalasi tensi geopolitik global, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan.

"Dinamika ini kemudian mendorong investor asing melakukan aksi ambil untung atau profit taking, yang kemudian memicu aliran modal keluar dari pasar keuangan domestik," ujar Azharys.

Meski demikian, Azharys menjelaskan, kondisi tersebut tidak serta-merta dapat menyeret kinerja pasar saham menuju situasi yang serupa.

Dalam hal ini, posisi IHSG justru terbukti mengalami anomali positif, dengan tetap dapat bergerak di tengah cukup kuatnya tekanan dari sisi eksternal.

"IHSG bergerak dengan sentimen dan katalisnya sendiri. Kebetulan IHSG saat ini justru sedang panen sentimen positif, mulai dari sinyal perekonomian nasional yang terlihat membaik, kepercayaan diri masyarakat terhadap kinerja Pak Purbaya (Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa) juga tinggi. Optimistis gitu, sehingga (sentimen-sentimen) itu justru membuat investor lebih nyaman untuk menambah dananya di pasar, sehingga at the end, IHSG juga terkerek naik," ujar Azharys.

(Tantra Deepa Rastafari)